CloudVault
← Kembali ke etalase
DevOps & CloudNetwork & SystemCybersecurityShowcase
Cloud Deployment / DevOps PipelinePendidikan & EdutechManufaktur & Industri Kreatif

CloudVault

CloudVault adalah platform penyimpanan data cloud self-hosted untuk organisasi yang ingin infrastruktur cloud mandiri tanpa bergantung pihak ketiga. Dibangun di atas Nextcloud + Debian 13, menghadirkan keamanan berlapis: pendeteksian intrusi otomatis (Fail2ban), pemindaian virus real-time di setiap file upload (ClamAV), dan backup terenkripsi harian dengan retensi otomatis. Monitoring server via Grafana & notifikasi langsung ke Telegram saat anomali.

Dipublikasikan: 2 September 2026

Alur Asesmen Tripartit

  1. Mahasiswa
  2. 2Koordinator
  3. 3Industri
  4. 4Selesai

Tentang Project

Fitur utamanya mencakup dashboard penyimpanan untuk upload, download, sharing, dan sinkronisasi file antar perangkat via WebDAV. Keamanan berlapis mulai dari TLS 1.3 saja dengan HSTS preload, rate limiting, Fail2ban yang otomatis mem-blacklist IP percobaan brute-force, sampai ClamAV yang memindai setiap file upload secara real-time sebelum disimpan, backup terenkripsi AES-256 dengan verifikasi SHA-256 dan rotasi otomatis 7 harian, 4 mingguan, dan 12 bulanan, maintenance otomatis lewat systemd timer termasuk perbaikan indeks database dan pre-generate preview, dan monitoring Prometheus + Grafana dengan Alertmanager yang memberi peringatan saat penyimpanan melewati 85%, ada service yang mati, atau sertifikat SSL hampir kadaluarsa.

Masalah yang Diselesaikan

CloudVault menjawab kebutuhan ini dengan penyimpanan cloud self-hosted yang tanpa biaya lisensi dan siap produksi: cukup satu perintah instalasi, dan server sendiri langsung bisa dipakai, lengkap dengan keamanan berlapis, sinkronisasi otomatis antar perangkat, backup terenkripsi, dan pemantauan otomatis, semua datanya tersimpan di server milik sendiri.

Cara Berpikir di Balik Project Ini

Bukti proses berpikir kontributor mengerjakan project ini — bukan cuma hasil akhirnya.

Kenapa pendekatan ini

Saya pilih pendekatan self-hosted karena masalah yang ingin dipecahkan sebenarnya soal privasi dan kenyamanan user: kalau menyimpan data di cloud pihak ketiga seperti Drive atau Dropbox, kita tdak memiliki kontrol penuh , data ada di server orang lain, bisa kena kenaikan harga mendadak, dan pindah ke layanan lain itu sulit dan mahal. Jadi dibuatlah server penyimpanan sendiri yang datanya tidak akan keluar dari sistem kita, biayanya jelas lebih murah karena hanya beli hardware sekali. Karena ingin dipakai real di dunia nyata, bukan sekadar demo, karena itu semuanya diamankan menyeluruh (pasang antivirus, proteksi dari serangan brute-force, enkripsi) dan backup yang terotomatisasi agar datanya tidak hilang, dan semua pengaturannya dibuat sebagai kode yang bisa dicatat dan diputar ulang kapan aja.

Bagian tersulit

Bagian paling stuck adalah ketika mencari cloud untuk deployment dan mencari fitur untuk proyek ini, sempat stuck karena kebanyakan cloud seperti gcp, oracle free-trial, dll harus menggunakan kredit meskipun tidak harus ada saldonya, sedangkan saya belum memiliki kartu kredit, jadi salah satu faktor pendukung project ini self-hosted adalah ini. Untuk masalah dalam menemukan fitur baru, pada akhirnya pasti akan berakhir sama seperti biasanya, yakni bertanya pada ai, juga diskusi dengan teman yang lain agar lebih optimal.

Yang dipelajari

Sebelumnya saya belum tahu apa itu nextcloud, fail2ban, grafana, prometheus, dan mengenai cloud. Namun seiring berjalannya waktu untuk mengerjakan proyek ini, lama kelamaan saya mulai memahami bagaimana setiap teknologi tersebut bekerja, bukan karena menyukainya tapi karena mulai terbiasa menggunakannya.

Galeri

Video Demo

Teknologi

Debian 13NextcloudNginxPHP 8.4 FPMPostgreSQL 17Redis 7ClamAVFail2banUFWCertbot